Friday, September 7, 2007

GLOBAL POSITIONING SYSTEM


  • NAVSTAR GPS (Navigation Satellite with Timing and Ranging Global Positioning System) atau sering disingkat GPS, merupakan sistem navigasi satelit terbaru yang didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi yang teliti, dan juga informasi mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia (Abidin,2000)

  • memungkinkan pemakai mendapatkan posisi titik secara tepat dengan ketelitian yang memadai.

  • Aplikasi awalnya untuk keperluan militer, sekarang aplikasinya bisa dipakai untuk, Survey & Pemetaan (Darat/laut), Geodesi, Geodinamika, dan Deformasi, Navigasi & Transportasi, Studi Troposfir & Ionosfir, Pendaftaran Tanah, Photogrammetry/Remote Sensing, GIS, Study Kelautan ( mis Arus ), Olah raga, rekreasi.

  • GPS dikembangkan oleh Amerika Serikat sejak tahun 1973, pengembangan sistem NAVSTAR GPS dilakukan dalam 3 tahap. Tahap pertama (1973-1978) dilakukan pengujian konsep. Tahap kedua (1978-1989) dilakukan pengujian prototype pada receiver, pada tahap ini diorbitkan satelit 7 buah (blok I). Tahap ketiga adalah operasional dimulai tahun 1989, dengan diorbitkan satelit blok II sebanyak 11 buah, Konstelasi satelit-satelit NAVSTAR GPS secara penuh terdiri dari 21 satelit ditambah 3 satelit cadangan dan secara resmi sistem GPS dinyatakan operasional pada April 1994.



  • Bereferensi ke satu global datum WGS84

  • Tidak tergantung cuaca

  • Cara penentuan posisi dapat dg statik maupun bergerak (kinematik).

  • Cocok untuk semua platform ( mobil, kapal, pesawat dll )

  • Tidak memerlukan saling keterlihatan antar titik.

  • Surveyor tidak dapat memanipulasi data mentah.

  • Untuk daerah terbuka GPS dapat menggantikan fungsi Total Station. Lebih praktis, teliti dan cepat. ( stop-go, Real Time Survey )


Keterbatasan

  • Tidak dapat digunakan di tempat dimana signal GPS tidak dapat diterima. Misal: di dalam terowongan, hutan lebat, di tengah bangunan bertingkat tinggi dll

  • Pemakai tidak mempunyai wewenang dalam system GPS

  • Datum yang digunakan WGS84, untuk posisi lokal dengan MSL pengguna harus menghitung sendiri angka transformasinya.

  • Pengolahan data GPS bukan hal yang mudah.

  • Teknologinya relatif baru, hingga sumber daya masih kurang.

  • Pemakaian terkesan sangat mudah, hingga membuat operator kurang teliti, dan kurang hati-hati tehadap pekerjaannya.

  • Survey GPS memiliki karakteristik dan persyaratan yang berbeda dengan survey Poligon dll


Karakteristik satelit GPS

  • Power Supply :

5 m solar panel

27 AH NiCad Battery

  • Frequency Standard :

Rubidium Cesium Quartz

  • Weight : 845 kg

  • Expected Life : 7.5 years


Segmen GPS

Satelit-satelit GPS (Space Segment)

  • Terdiri dari 24 Satelit BlokII dan BlokIIA ( blok IIR disiapkan )

  • Terdiri dari 6 Bidang Orbit, 4 Satelit per orbit

  • Inklinasi 55 derajat

  • Periode orbit 12 jam

  • Kecepatan orbit 3.87 km/detik

  • Bentuk orbit mendekati lingkaran, dengan a = 26.600 km

  • Jarak antar orbit 60°

  • Merupakan satelit orbital (kecepatan orbit satelit 2 kali lebih cepat dari kecepatan orbit bumi)

  • Ketinggian rata-rata 20200 km

  • Satelit mirip radio pemancar di angkasa

  • One way ranging system

  • Dari wilayah Indonesia dapat diamati 6 - 9 satelit dg elevasi 15 deg

  • Nama satelit ditunjukkan dengan SVN ( Satellite Vehicle Number) dan PRN (Pseudo Random Number )


Pengguna (User Segment)

Mengamati sinyal GPS, menghitung posisi, kecepatan, informasi mengenai waktu


System control (Control Segment)

Sinkronisasi waktu, injeksi data, monitor kesehatan satelit

prediksi orbit. dll






Signal&Data GPS

  • Signal yang dipancarkan oleh satelit berisi informasi : Posisi satelit GPS, Jaraknya dari sipengamat lengkap dengan informasi waktunya, Status kesehatan satelit dan informasi lainnya.

Komponen Signal GPS

  • Penginformasi Jarak (CODE), ada 2 macam code : P-code ( Precise atau private ), C/A code (Coarse Acquisition/Clear access)

  • Penginformasi Posisi Satelit ( Navigation messages) : Prediksi efemeris satelit, Koreksi parameter jam satelit, Informasi status sistem GPS

  • Gelombang Pembawa ( Carrier wave ), ada 2 gelombang pembawa : L1 (1575,42 Mhz dan panjang gelombang = 19.05 cm) dan L2 (1227,60 MHz dan panjang gelombang =24.25 cm).


PENGELOLA GPS

  • Sistem GPS dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Defense Mapping Agency) untuk keperluan sipil maupun militer dalam hal penentuan posisi tiga dimensi. Pada awalnya tujuan dari pengembangan GPS adalah untuk menunjang kepentingan militer Amerika Serikat.


SISTEM KOORDINAT

  • Dalam sistem GPS dikenal ada beberapa sistem koordinat

  • Sistem Koordinat Orbit

  • Sistem Koordinat Kartesian

  • Sistem Koordinat Geodetik

  • Sistem Koordinat Toposentrik














Elemen Keppler

  • Setengah sumbu panjang (a)

  • Eksentrisitas (e)

  • Anomali sejati (f)

  • Right ascension of ascending node (W)

  • Argument of perigee (w),

  • Inklinasi (i).








Konfigurasi Orbit

  • Konstelasi standar dari satelit GPS terdiri dari 24 satelit yang menempati 6 bidang orbit yang bentuknya sangat mendekati lingkaran, dengan eksentrisitas orbit umumnya lebih kecil dari 0,02. Keenam orbit satelit GPS mempunyai spasi sudut yang sama antar sesamanya.. Setiap orbit ditempati oleh 4 satelit dengan interval antaranya yang tidak sama. Jarak antar satelit diatur sedemikian rupa untuk memaksimalkan probabilitas kenampakan setidaknya 4 satelit yang bergeometri baik dari setiap tempat di permukaan bumi pada setiap saat.














PENETUAN POSISI DENGAN GPS

  • Posisi yang didapat adalah 3D ( X,Y,Z) atau ( L,B,h)

  • Tinggi yang diberikan adalah tinggi ellipsoid

  • Datum WGS84 dengan ellipsoid GRS 1980

  • Penentuan posisi dapat dengan cara : Absolut positioning, Diffeential, Static, Rapid Static, Re-occupation, Kinematic, Kinematic On the fly

  • Titik yang akan ditentukan dapat diam maupun bergerak

  • Spektrum ketelitian dari : mm hingga puluhan meter.


FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETELITIAN POSISI GPS

  • Ketelitian Data

Type data yang digunakan, Kualitas Receiver GPS, Level kesalahan/bias.

  • Geometri Satelit

Jumlah Satelit, Lokasi dan distribusi satelit, lama pengamatan.

  • Metoda penentuan posisi

Absolut / defferensial positioning

Static, Rapid Static, Reoccupation, Kinematic, OTF

Satu atau dua referensi.

  • Strategi pemrosesan data

Real Time/post processing, pemrosesan base line & perataan jaring







Konsep penentuan posisi geodetik pengamat (suatu titik) dengan menggunakan data receiver GPS


  • GAMBAR :

ω

Ω

γ

Keterangan gambar :

O : pusat massa bumi (WGS ’84)

SVi : satellite vehicle (kendaraan edar), i = 1, 2, 3, 4

P : posisi pengamat (receiver)

a : setengah sumbu panjang ellipsoid

b : setengah sumbu pendek ellipsoid

f : anomali sejati

Ω : right ascension of ascending node

ω : argument of perigee

Di : jarak dari receiver ke SVi

VE (γ) : vernal equinox

X,Y,Z (+) : sumbu kartesi referensi WGS ‘84

X,Y,Z (P) : koordinat kartesi receiver

X,Y,Z (SVi) : koordinat kartesi SVi



  • KONSEP :

Prinsip penentuan posisi dengan GPS adalah reseksi (pengikatan ke belakang) dengan jarak. Penentuan posisi dilaksanakan dengan melakukan pengamatan simultan ke minimal 4 satelit yang koordinatnya diketahui. Pengamatan simultan ke 4 satelit dibutuhkan untuk mendapatkan solusi 3 parameter posisi dan satu parameter koreksi waktu.

Penentuan posisi pada suatu titik disebut absolute positioning. Posisi titik tersebut direferensikan terhadap pusat sistem koordinat, yaitu geocenter GPS (pusat massa bumi). Data yang digunakan adalah pseudorange (jarak semu).

  • URUTAN PERHITUNGAN :

    1. Mencari Rumus Persamaan Jarak

  • Rumus umum untuk menghitung jarak dengan waktu adalah :

D = c.t , di mana : (1)

D : jarak (meter)

c : tetapan kecepatan cahaya (3 x 108 meter/detik)

t : waktu (detik)

  • Rumus menghitung jarak dengan beda waktu adalah :

D = c.∆t atau D = c.(t1 – t2) (2)

  • Rumus menghitung jarak dengan koordinat adalah :

D = √ (X1 – X2)2 + (Y1 – Y2)2 + (Z1 – Z2)2 (3)

  • Rumus perhitungan jarak pengamat dan satelit dengan waktu adalah (i = 1 s/d 4) :

DPSVi(t) = √ {[XSVi(t) – XP]2 + [YSVi(t) – YP]2 + [ZSVi(t) – ZP]2} - c.∆t (4)


  1. Menghitung Koordinat Satelit (Kartesi 3 D) dengan Data Broardcast Ephemeris

    • Konstanta :

      1. Konstanta gravitasi universal bumi : μ = 3986001.5 x 108 m3/det

      2. Kecepatan rata-rate rotasi bumi : Ω = 7.292115147 x 10-5 rad/sec

    • Perhitungan anomali sejati :

      1. Waktu sesudah epoch referensi : tk = t - toe (5)

      2. Rata-rata gerakan terkoreksi : n = √(μ/a3) + ∆n (6)

      3. Rata-rata anomali pada tk : Mk = M0 + n.tk (7)

      4. Penyelesaian iteratif untuk Ek : Mk = Ek – e sin Ek (8)

      5. Anomali sejati vk : vk = arc tg {√(1 – e2sin Ek)/cos Ek – e)} (9)

    • Argumen lintang :

      1. Argumen lintang : Φk = vk + ω (10)

      2. Koreksi : δuk = Cus sin 2Φk + Cus cos 2Φk (11)

      3. Argumen lintang terkoreksi : uk = Φk + δuk (12)

    • Radius orbit terkoreksi :

      1. Radius : rk = a(1-e.cos Ek) + Crs.sin 2Φk + Cic cos 2Φk (13)

      2. Posisi di orbit : Xk = rk cos uk (14)

Yk = rk sin uk

  • Inklinasi terkoreksi : ik = i0 + Cis.sin 2Φk + Cic cos 2Φk + i tk (15)

  • Ascending node terkoreksi : Ωk = Ω0 + (Ω – Ωe).tk – Ωe.toe (16)

    • Koordinat WGS ’84 : Xe = Xk.cos Ωk – Yk.sin Ωk (17)

Ye = Xk.cos Ωk – Yk.sin Ωk (18)

Ze = Yk.sin Ωk (19)

Di mana :

n : perbedaan dari anomali menengah = 4.389112813.10-9 rad/det

e : eksentrisitas = 2.8019920.10-3

ω = 2.420534936 rad

toe : time of ephemeris, epoch referensi dari efemeris

a : sumbu

M0 : anomali rata-rata pada waktu referensi

i : kecepatan perubahan dari inklinasi

Ω : kecepatan perubahan dari right ascension

Cuc,Cs : koefisien koreksi argument of perigee

Crc ,Crs : koefisien koreksi jarak geosentrik

Cic ,Cis : koefisien koreksi inklinasi



  1. Memasukkan Nilai Jarak dan Nilai Kartesi Satelit

DPSVi(t) = √ {[XSVi(t) – XP]2 + [YSVi(t) – YP]2 + [ZSVi(t) – ZP]2} (20)


Karena (XP,YP,ZP) tidak linear, maka diberikan nilai pendekatan (XP0,YP0,ZP0) agar DPSVi(t) dapat dihitung, sehingga rumusnya menjadi :

DPSVi(t) = √ {[XSVi(t) – XP0]2 + [YSVi(t) – YP0]2 + [ZSVi(t) – ZP0]2} (21)


Nilai (XP,YP,ZP) dihitung dengan :

XP = XP0 + ∆XP (22)

YP = YP0 + ∆YP

ZP = ZP0 + ∆ZP


Rumus jarak (20) dilakukan linearisasi menggunakan Deret Taylor :

DPSVi(t) = f (XP0+∆XP , YP0+∆YP , ZP0+∆ZP) (23)

DPSVi(t) = f (XP0,YP0,ZP0) + ∂f(XP0,YP0,ZP0)/∂XP0 . ∆XP + ∂f(XP0,YP0,ZP0)/∂YP0 . ∆YP + ∂f(XP0,YP0,ZP0)/∂ZP0 . ∆ZP (24)

Di mana :

f(XP0,YP0,ZP0)/∂XP0 = - XVSi(t) – XP0 / DP0SVi (25)

f(XP0,YP0,ZP0)/∂XP0 = - YVSi(t) – YP0 / DP0SVi

f(XP0,YP0,ZP0)/∂XP0 = - ZVSi(t) – ZP0 / DP0SVi



  1. Melakukan Hitung Perataan

    • Vektor matriks :

L + V = A X atau

V = A X – L di mana :


DPSV1 - DPSV1

L = DPSV2 - DPSV2 adalah matriks pengamatan

dst - dst

DPSVn - DPSVn



V DPSV1

V = V DPSV2 adalah koreksi pengamatan

dst

V DPSVn


(XP-XP0SV1)/DPSV1 (YP-YP0SV1)/DPSV1 (ZP-ZP0SV1)/DPSV1 adalah

A = (XP-XP0SV2)/DPSV2 (YP-YP0SV2)/DPSV2 (ZP-ZP0SV2)/DPSV2 matriks

dst dst dst koefisien

(XP-XP0SVn)/DPSVn (YP-YP0SVn)/DPSVn (ZP-ZP0SVn)/DPSVn parameter


    • Membentuk matriks X dengan rumus :

X = ( AT PA )-1 AT PL dengan matriks bobot :


Γ02x2 simetris 1 Φ

P = Γ02Y2 jika (Γ02x2 , Γ02Y2 , Γ02Z2 ) diberi bobot 1 1

simetris Γ02Z2 Φ 1


sehingga :


∆XP

X = ∆YP

∆ZP



    • Iterasi (XP,YP,ZP) dengan (XP0,YP0,ZP0) untuk menghitung jarak

XP = XP0 + ∆XP

YP = YP0 + ∆YP

ZP = ZP0 + ∆ZP


    • Iterasi dihentikan jika :

XPn - XPn-1 ≤ toleransi

YPn - YPn-1 ≤ toleransi

ZPn - ZPn-1 ≤ toleransi


  1. Melakukan Transformasi Koordinat Kartesi 3 D menjadi Koordinat Geodetik

XP = (N+h) cos φP cos λP

YP = (N+h) cos φP sin λP

ZP = [N (1-e2) + h] sin φP


Dengan P = (N+h) cos φP,

φP0 = arc tg { (ZP/P) x [1-(e2.N)/(N+h)]-1 }

dilakukan proses iterasi dengan pendekatan h0 sehingga diperoleh :

P (φnn,hn)

Proses iterasi dihentikan jika :

φPn - φPn-1 ≤ toleransi

λPn - λPn-1 ≤ toleransi

hPn - hPn-1 ≤ toleransi, sehingga diperoleh : P (φPP,hP)



  1. KETELITIAN POSISI GPS

Ketelitian posisi titik hasil pengamatan GPS secara umum tergantung pada:

    1. Ketelitian data

      • tipe data yang digunakan

      • kualitas reciever yang digunakan

      • level dari kesalahan dan bias

    2. Geometri satelit

      • Jumlah satelit

      • Lokasi dan distribusi satelit

      • Lama pengamatan

    3. Metode penentuan posisi

    4. Strategi pemrosesan data

      • Real time atau post processing

      • Strategi eliminasi dan pengoreksian kesalahan/bias

      • Pemrosesan baselin perataan jaringan

      • Kontrol kualitas.


  1. TAHAPAN PENGUKURAN

    1. Pendefinisian Survei

      • Penetapan personel lapangan

      • Pengumpulan dokumen awal

      • Penyiapan spesifikasi teknis dan jadwal implementasi survai

    2. Perencanaan dan persiapan

      • Pengumpulan informasi perencanaan

      • Perencanaan awal

      • Reconnaisance

      • Pendesainan geometri jaringan

      • Finalisasi dokumen perencanaan

      • Tinjauan desain rencana survai

    3. Pengamatan satelit GPS

      • Tahap persiapan

      • Tahap pengamatan

      • Tahap setelah pengukuran

    4. Pengolahan data GPS

      • Pengolahan data baseline

      • Perataan jaringan

      • Transformasi datum dan ordinat

    5. Pendokumentasian hasil survei

APLIKASI GPS

  1. Penentuan titik dasar teknik (titik ikat)

  2. pengukuran dan pemetaan







Why GPS

  1. GPS dapat digunakan tanpa tergantung waktu dan cuaca, sehingga meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas pengukuran.

  2. ketinggian orbit satelit cukup tinggi (20:200km) menghasilkan cakupan liputan yang sangat luas, ditambah jumlah satelit yang (24) dapat dilihat dari bagian manapun dimuka bumi.

  3. tidak terpengaruh kondisi topografi, tidak memerlukan keterlihatan antar titik sebagaimana pengukuran teristis konvensional.

  4. posisi hasil pengukuran GPS mengacu pada datum global sangat bermanfaat untuk menyamaan sistem, terutama untuk Indonesis yang terdiri dari banyak pulau.

  5. ketelitian nposisi GPS mempunyai spektrum yang sangat luas menghasilkan fleksibilitas pemilihan alternatif pengukuran sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.

  6. pemakaian sistem GPS tidak dikenakan biaya kecuali pembelian alat.













  1. METODE PENENTUAN POSISI ABSOLUT

Absolute positioning adalah metode penetuan posisi menggunakan satu receiver GPS di suatu stasiun pengamatan untuk mengumpulkan data dari beberapa satelit GPS guna menentukan posisi dari stasiun tersebut.


METODE PENENTUAN POSISI RELATIF (DEFERENSIAL).

Pada penetuan posisi relatif (diferensial), posisi suatu titik ditentukan relatif terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya.

Keterangan gambar:

S1, S2, S3, S4: Satelit GPS

A, B : titik (Stasiun) pengamat

P21, p22 : jarak dari satelit S2 ke pengamat A dan B

bAB : jarak basis antara titik A dan B

pada gambar 6, titik A merupakan titik referensi yang telah diketahui posisinya dalam sistem koordinat tertentu, sedangkan titik B belum diketahui posisinya. Pengamatan dilakukan secara bersamaan, sehingga beberapa jenis bias dan kesalahan dapat dieliminasi atau direduksi.


METODE STATIK

Penentuan posisi secara statik (Static Positioning) adalah penentuan posisi dari titik-titik yang statik (diam). Penetuan posisi ini dapat dilakukan secara absolut maupun diferensial, dengan menggunakan data kode dan atau fase. Dapat mengahasilkan ketelitian posisi yang tinggi hingga orde milimeter. Waktu yang dibutuhkan delam pengukuran berkisar antara 45 menit hingga beberapa jam.


METODE STATIK SINGKAT

Penetuan posisi scera statik singkat (Fast/ rapid static) pada dasarnya adalah identik dengan metode statik hanya dengan waktu yang lebih singkat (5-20 menit). Dapat menghasilkan ketelitian posisi yang tinggi orde centimeter.



METODE PSEUDO KINEMATIK

Metode pseudo kinematik (intermittent/reocupation) pada dasarnya adalah pelaksanaan dua metode pengukuran statik singkat dengan selang satu sampai beberapa jam diantaranya.


METODE STOP AND GO

Metode stop and go (semi kinematik) adalah metode penetuan posisi titik dengan posisi titik statik sedangkan reciever bergerak dari titik dan diam beberapa saat (1-2 menit) di titik tersebut. Metode ini berbasiskan pada penetuan posisi secara diferensial dengan menggunakan data fase. Agar ambiguitas fase dapat dipecahkan, pada titik pertama yang diukur harus dilakukan pengamatan yang relatif lebih lama (inisialisasi). Pada saat pengukuran, selama pergerakan reciever sinyal satelit tidak boleh terputus (cycle slips). Jika hal tersebut terjadi, harus kemali dilakukan inisialisasi.


METODE KINEMATIK

Penentuan posisi secara kinematik (kinematik positioning) adalah penetuan p[osisi dari titik-titik yang bergerak sehingga receiver tidak dapat berhenti pada titik-titik tersebut. Sebagaimana halnay metode statik, penetuan posisi ini dapat dilakukan secara absolut maupun deferensial, dengan menggunakan data kode dan atau fase. Dapat menghasilkan ketelitian posisi yang beragam, dari tingkat rendah hingga relatif tinggi.


2 comments:

Anonymous said...

Saya tertarik untuk melanjutkan topik yang anda angkat dalam tesis anda mengenai pendefinisian server, bisa mohon saran terkait hal tersebut?

Anonymous said...

Genial fill someone in on and this mail helped me alot in my college assignement. Thank you as your information.