Friday, September 7, 2007

ANTHURIUM, GAK ADA MATINYA!


anthurium1kecil.jpg

Pamor Anthurium bakal menyusul jejak kemilau popularitas aglaonema. Harga serta permintaannya melesat pesat. Banyak Nursery telah melakukan kuda-kuda guna mengantisipasi melonjaknya permintaan.

Beberapa waktu terakhir keberadaan anthurium sedang diincar banyak pecinta tanaman hias. Tak sedikit pemain nekad menukar satu pot anthurium dengan segepok uang bernilai jutaan rupiah. Demam anthurium tak hanya terjadi di jabotabek saja. Berbagai daerah lain terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur juga mengalami kondisi serupa. “Bahkan mungkin gaungnya lebih terasa di Jawa Tengah dibandingkan dengan jakarta,” ujar Kurniawan dari Toekangkeboen, trader tanaman hias di BSD City, Tangerang.

Besarnya permintaan membuat anthurium, terutama jenis favorit, agak susah didapat. Dicari sampai tingkat petani pun belum tentu tersedia. “Sekarang coba cari ke para petani di Sawangan atau ke Gondrong, Tangerang. Barangnya sudah habis. Padahal dulu di tempat-tempat itu gudangnya anthuriu, papar Kurniawan.

Kelebihan lain yang melekat pada diri anthurium adalah sosoknya yang gagah dan terlihat megah. Tak heran kalau tanaman ini banyak dipelihara di istana kerajaan-kerajaan di masa lampau. “Tapi kenapa sekarang bisa terjadi booming, lebih banyak karena ada harapan keuntungan yang tinggi dari anthurium.

Hal senada juga diungkapkan oleh Adi, pedagang tanaman hias di kawasan Kaliurang Yogyakarta. Pria asal Malang ini telah melakukan kuda-kuda untuk menghadapi peluang melonjaknya permintaan Anthurium oleh konsumen. Ia tak ragu melakukan stok bibit Anthurium jenis jenmanii hingga ratusan jumlahnya. “Harganya memang lumayan mahal. Tapi biasanya kalau harga mulai melonjak seperti ini tidak lama lagi pasti bakal jadi trend,” terang Adi Bayi Anthurium seukuran ujung jari kelingking itu dijual seharga Rp 25 – 30 per buah.

Sejak dari awal tahun 2006 ini, OSN (Oasis Sentul Nursery) kewalahan memenuhi permintaan anthurium dari Jawa Tengah. Terutama dari daerah Solo. Beberapa pedagang dari Solo malah datang ke OSN yang berlokasi di Bogor. Sampai persediaan anthurium di OSN habis, tidak ada stok.

“Awalnya permintaan hanya pada anthurium jenis tertentu saja, seperti anthurium Jenmanii. Tapi karena sekarang banyak permintaan, stok anthurium tersebut berkurang, dan menjadi langka di pasaran. Kalaupun ada, harganya selangit. Karena itu sekarang anthurium jenis lain banyak dicari orang, dan harganya menjadi terdongkrak,” papar Novi.

Ia mencontohkan seperti anthurium sirih. Harga anthurium tersebut saat ini harganya sudah mencapai Rp 400.000 perdaun. Bahkan saat pameran di lapangan banteng, beberapa waktu lalu, ada yang harganya mencapai Rp 700.000 perdaun. Tak hanya itu, anthurium way of love juga harganya meninggi. “Padahal sebelumnya, kalau anthurium hanya jenmanii yang leading, lainnya enggak,” tambah Novi lagi.

Untuk bulan ini saja, jenmanii yang laku di OSN sekitar 15-20 pot. Dengan range harga antara Rp 1000.000-Rp 2.750.000 per pot. Dengan tinggi tanaman dari yang 70 cm sampai dengan yang 1 m lebih. “Itu harga di sini yah, nanti kalau sudah dijual lagi, harganya pasti lebih tinggi lagi,” papar Novi.

Tren anthurium memang, Novi mengakui daerah Jawa Tengah lebih dulu ketimbang Jabotabek. Ini ditandai banyak para pemain tanaman hias dari Jawa Tengah, ramai-ramai belanja anthurium di Jabotabek. “Harganya di sana juga udah gila banget. Di sini kita tunggu limpahan anthurium aja dari sana, karena banyak,” terang Novi.

Apa yang diucapkan Novi diamini oleh Ali Mas’udi, salah seorang pedagang tanaman hias yang berasal dari Kudus. Sengaja jauh-jauh ia datang dari Kudus memang untuk mencari anthurium, dan beberapa tanaman hias lainnya. “Dulu saya, kalau mau nyari anthurium mudah mendapatkannya, sekarang susahnya minta ampun. Stoknya terbatas,” papar Ali yang saat ditemui Flona tenggah berbelanja di OSN.

Ketika masih banyak stok, ia bisa sampai ribuan pot mendatangkan anthurium jenmanii ke Kudus. “Dan itu, 1-2 hari langsung habis lagi,” terang Ali yang baru 2 tahun belakangan ini menjadi pemain tanaman hias. Selain Jenmanii, anthurium lain yang dicari pembelinya adalah anthurium wafe of love. Tak heran saking banyaknya permintaan, ia menghabiskan waktu 5 hari di Jabotabek, dan 3 hari kemudian di Kudus. Selama di Jakarta, ia biasa berputar-putar mencari nursery yang bisa menyediakan berbagai macam tanaman hias yang dicarinya.

Saat ini di Kudus, menurut Ali, peminat tanaman hias sedang banyak-banyaknya. Terutama jenis anthurium. Selain anthurium, tanaman hias lainnya seperti adenium, aglaoenema, dan sansievieria juga dicari, meski tak setinggi anthurium. “Kalau dulu mungkin pedagang tanaman hias cuma sedikit, sekarang jumlahnya sudah ratusan,” jelasnya.

Ajangan pameran Flona (Flora dan Fauna) yang berlangsung bulan Agustus 2006 di lapangan Banteng – Jakarta, juga telah ikut andil menjadi pemicu kembalinya pamor anthurium. Harganya bisa tembus Rp Rp 2,5 juta per pot ukuran 18 cm. “Terutama untuk jenis Anthurium jenmanii,” ujar Ade pemain tanaman hias di daerah Serpong, Tangerang. Tak heran jika para pedagang tanaman hias saling berbisik tentang bakal ramainya lagi tanaman hias daun ini.

Jenis Jenmanii banyak diminati

Dari sekian banyak jenis anthurium, barangkali Anthurium jenmanii yang paling banyak dicari orang. Jenis ini ditandai dengan sosok daunnya yang tebal dan kaku. Harganyapun naik gila-gilaan. Kabarnya ada anthurium cobra yang laku terjual sekitar 50 juta rupiah!. Harga yang cukup mahal untuk kategori tanaman hias berdaun indah ini. Kenapa bisa mahal? “Mengikuti prinsip pasar saja. Kalau permintaannya tinggi dan stoknya tak banyak, harganya pasti akan melambung,” terang Kurniawan.

Keunggulan anthurium Jenmanii dibanding anthurium lainnya, menurut Novi, dari Oasis Sentul Nursery, terletak pada ketebalan daun. Selain itu tumbuhnya lama. “Karena itulah pasokannya jadi terbatas. Untuk menghasilkan 1 daun saja, itu memerlukan waktu yang lama sekali. Jadi itulah, kenapa anthurium ini banyak dicari orang dan harganya lumayan mahal,” papar Novi. Padahal kalau dilihat dari warna, sama seperti warna anthurium umumnya yang berwarna hijau. Jermanii yang ujungnya berwarna merah, harganya lebih mahal ketimbang jermanii yang ujungnya berwarna hijau.

Tak heran, karena kekhususan anthurium ini, ada orang yang mengkoleksinya, bukan untuk dijual. “Saya punya temen namanya Teguh, dia tinggal di Solo. Di rumahnya di Jawa sana, ia punya Jenmanii banyak sekali, dan hanya dipajang di depan rumahnya. Cuma dikumpulin doang, enggak dijual,” ucap Novi.

Ia menduga, sampai akhir tahun ini kalau ketersediaan stok masih ada, anthurium masih dinikmati banyak orang. Perputaran tanaman hias kalau tidak aglaonema, anthurium dan philodendron, hanya 3 jenis ini saja. Lainnya standar. Kalau saya lihat sih tahun ini trennya lagi anthurium. Gantian dengan aglaonema yang pada tahun lalu banyak dicari orang.

Anthurium jenmanii banyak variannya, perbedaannya adalah bentuk daunnya. Soal nama belum ada pembakuan. Tak heran kalau lantas banyak beredar nama varian jenmanii yang sangat banyak. Mulai dari yang asalnya dapur seperti centong, sendok, piring, mangkok sampai cangkir. Juga nama lain seperti golok, pedang, jaipong, kol, wayang sampai teratai. Bahkan ada yang berjuluk levis karena serat daunnya mirip kain bahan jeans.

Terkadang penamaan ini masih jadi perdebatan semisal ada yang menyebutnya golok, namun ada yang menganggap itu jenmanii pedang. Ada yang menyebut centong, sementara orang lain menjuluki sendok. Maka banyak pedagang yang tak mau mematok nama pada anthurium dagangannya. Pokoknya barangnya bentuknya seperti ini dan harganya segini, pembelinya mau enggak. Tak perlu berdebat soal nama.

Jenis lain ikut diminati

Selain jenmanii, black beauty, super boom dan neo super boom adalah jenis anthurium yang juga jadi favorit. Tak heran kalau harganya ikut naik gila-gilaan. Namun di luar jenis-jenis favorit itu, tingkat penjualan dan harga anthurium lain ikut terdongkrak. Tanduk, wave of love, keris, sirih, jari juga ikut naik mengikuti tren anthurium yang terjadi.

Melonjaknya harga Anthurium jenmanii, memicu harga anthurium jenis lain ikut meroket. Bahkan trennya mulai mengekor jenmanii. Misalnya saja jenis wave of love. Jenis ini harganya naik 2 kali lipat dari harga normal. Selain itu muncul pula jenis-jenis baru. Misalnya anthurium ratu, anthurium patrick, dan marbell queen. Berbagai jenis anthurium baru yang lain yaitu anthrium ratu, anthurium kejora.

Menurut Franky, pecinta anggrek yang juga mengoleksi Anthurium, penanaman Anthurium saat ini memang belum serapi layaknya jenis tanaman hias jenis lain. Sebut saja, Anggrek. Akibatnya, di pasaran banyak ditemui jenis Anthurium yang sama dengan nama berbeda. Bahkan, berbagai jenis tanaman yang sebenarnya bukan Anthurium sering pula disebut sebagai Anthurium.

Untung dan marjin

Anthurium termasuk tanaman yang pertumbuhannya tak terlalu cepat. Paling cepat satu daun akan muncul setelah dua sampai tiga bulan dirawat. Kalau membesarkan dari anakan biji perlu waktu bertahun-tahun untuk menjadi besar dan berbandrol mahal. Pertumbuhannya jauh lebih lambat dibanding dengan aglaonema yang bisa nambah satu daun setiap bulannya.

Makanya keuntungan dari usaha anthurium lebih banyak dari marjin harga jual dan beli. Semisal membeli dengan harga sejuta lantas dijual satu setengah juta. Sangat sulit mengharapkan laba dari pembesaran maupun budidaya dalam rentang waktu sangat singkat.

Meski begitu ada juga yang mau membeli bibit yang masih seupil. Padahal sudah saya jelaskan kalau untuk jadi besar perlu menunggu waktu sampai dua puluh tahun. Tapi kalau pembelinya memang suka dan mampu baru beli bibit mau gimana lagi. Harga jual bibit juga tergolong mahal. Semisal bibit anthurium keris yang ukuran sekitar 10 cm tingginya dihargai50 ribu, sementara black beauty dengan ukuran sama bisa sampai 300 ribu per potnya.

Anthurium termasuk barang kolekstor item, bukan tanaman hias masal seperti yang terjadi pada aglaonema. Pembudidayaannya memakan waktu lama, anthurium yang banyak beredar sekarang adalah stok lama dari para petani. Bukan baru-baru ini saja ditanam. Namun anthurium punya keunggulan dibanding aglaonema, yang sama-sama tanaman hias daun dan sedang ngetren. Yaknia lebih bandel dan perawatannya sangat mudah. Tanaman ini termasuk tahan banting dan jarang terserang penyakit.

Anthurium yang bagus bertajuk daun roset. Daunnya bertumpuk-tumpuk saling menutup seperti helaian kelopak mawar. Kalau daunnya rada sobek atau ada lubang halus, biasanya masih kita beri toleransi, asal enggak parah banget.

Cara belanja masih kuno

Harga Anthurium kini tengah melonjak. Uniknya dalam dunia tanaman hias masih banyak menerapkan cara tradisional yakni membayar dengan uang cash, meskipun ada transaksi dengan kartu kredit maupun transfer bank, jumlahnya masih sedikit. Padahal tak jarang para pemain dari Jawa Tengah misalnya memburu anthurium sampai Jabotabek karena mereka kehabisan stok. Dan kalau membeli tak hanya satuan jumlahnya tetapi puluhan dan diangkut dengan iringan truk.

Mereka datang dengan segepok uang dan membayarnya tunai. Kadang mereka membawanya dengan karung. Kita ‘khan enggak mungkin menghitung uangnya kalau jumlahnya banyak banget. Ya, kita mengandalkan saling percaya. Mudah-mudahan uangnya enggak ada yang palsu.

Maling isyaratkan tren

Pelaku pencurian tanaman hias tentu didalangi oleh oknum yang telah mengetahui seluk beluk dunia tanaman hias. Mereka mengetahui pasti peta dunia bisnis tanaman hias. Harga dan tanaman yang sedang trend sudah ada dalam benak mereka sebelum mencuri.

Sama seperti dengan halnya aglaonema. Berbagai nurseri telah menderita kerugian gara-gara anthurium mereka raib digondol kucing berkepala hitam. Nani, pedagang tanaman hias di bilangan Kaliurang Yogya mengaku telah kecolongan puluhan bibit anthurium jenmani. Pengalaman getir serupa juga disandang oleh beberapa pedagang tanaman hias di Bursa Tanaman Hias BSD City.

No comments: